![]() |
| pict from canva |
Semua makhluk ciptaan Allah pasti akan diurus oleh-Nya, akan dipelihara,
dijaga, dan diatur oleh-Nya. Dengan aparat-Nya, para malaikat yg senantiasa
taat kepada-Nya. Sang Maha Ar-Rahman, tentunya ialah yg Maha Pengasih, semua
makhluk-Nya ia kasihi dengan sama dan sesuai kebutuhan makhluk-Nya. Berbeda
dengan Ar Rahim, Yang Maha Penyayang, Dia sangat menyayangi makhluk ciptaan-Nya
yg taat pada-Nya. Ar Rahim nya Allah hanya diperuntukkan kepada orang-orang
tertentu saja, dan tidak semua manusia Dia sayangi. Misalkan, seorang bos akan
menyayangi karyawannya jika ia mau taat perintah kepada bos nya. Artinya
karyawan itu siap diatur dan melaksanakan tugas sesuai dengan yang diperintahkan
bosnya.
Berarti, Ar Rahim nya Allah itu akan diberikan kepada orang-orang
yang senantiasa beriman kepada-Nya dan menjalankan aturan dan perintah-perintah
yang ditetapkan-Nya. Salah satu upaya agar mendapat Ar Rahim nya Allah ialah, disetiap harinya
kita mampu meningkatkan iman kita kepada Allah, cari sesuatu yang kita dapat
dihari itu yang jarang sekali orang lain mendapatkannya. Dalam bentuk
aplikasinya, kita bisa berpikir bahwa ketika kita tidak mampu menghadapi suatu masalah,
kita harus menyadari itu, karena yang dapat memampukan itu Allah. Dan kita
harus menyadari bahwa kita itu budaknya Allah, artinya kita lemah dan tidak memiliki
kekuatan sedikitpun.
Sama hal nya ketika Allah mengutus wakil-Nya untuk berkuasa di muka
bumi dan menjalankan semua yang dititah-Nya. Sudah jelas, bahwa yang namanya
utusan Allah, pasti ia akan loyal terhadap perintah Allah dan mencintai-Nya
setiap saat. Seperti Nabi Ibrahim as.
Yang dijuluki sebagai Bapaknya para
Nabi, beliau adalah seorang yang diutus oleh Allah untuk menggulingkan kekuasaan
yang dzalim terhadap aturan Allah, yaitu adalah kekuasaan namruz. Dalam sejarah
dikisahkan, bahwa dari sejak kecil
hingga pemuda, ia memilliki jiwa pemberani, kritis, tegas, dan mampu berdiplomasi.
Namun, banyak kaumnya yang ingkar dan tidak mengimani Allah dan Rasul-Nya.
Hingga ia harus melewati berbagai ujian yang taruhannya ialah nyawa, namun dengan
rasa rendah dirinya dihadapan Allah, ia sangat bergantung kepada-Nya, maka ia
berhasil untuk mendapat rahimnya Allah. Allah selamatkan ia dari berbagai ujian
yang ia jalani.
Disaat semua mata, telinga, dan hati tertutup, disaat itulah
seorang utusan-Nya menjalankan amanahnya untuk membuka yang tertutup itu. Ketika
cintanya buta dan penuh dengan liku bahkan duri yang menusuk kehidupannya,
disaat itulah Sang Maha Pemilik cinta menunjukan kekuasaannya. Disaat itulah Sang
Maha Rahim memberikan sebuah percikan, goresan, hingga teguran bagi siapa yang
enggan untuk mengikuti perintah-Nya. Maka,
dengan kondisi itulah, ibrahim yang sangat taat dan tunduk kepada Allah, ia
lakukan walaupun ia dimusuhi oleh banyak orang.
Dalam keberjalanan menegakan hukum Allah di muka bumi, tentu ia melakukan
tugasnya tidak sendiri. Yang namanya memimpin, tentu ia mampu menngorganisir kaumnya.
Ia memiliki jiwa seorang yang tidak terlepas untuk saling berjamaah dan meminta
bantuan kepada sesamanya. Termasuk peran seorang istrinya dalam membangun
keteguhan dan kekuatan dalam menegakkan hukum Allah saat itu. Dikisahkan pula
bahwa Nabi Ibrahim memiliki banyak keterkaitan hubungan nasab dengan nabi-nabi
lainnya, salah satunya dengan Nabi Luth. Mereka memiliki hubungan nasab dengan
satu ayah dan berbeda ibu kandung, namun akhirnya Allah menentukan untuk Nabi Luth
yang diutus di negeri sodom. Dengan
demikian, tidak salah jika nabi ibrahim dijuluki pula sebagai bapak tauhid,
yang mengajarkan banyak sekali prinsip-prinsip
mengesakan Allah kepada para nabi yang lainnya.
Dalam kehidpan bernegara, nabi ibrahim tidak pernah melupakan
pentingnya seorang wanita dalam kehidupannya. Karena tiang negara tentunya akan
dilihat dari peran seorang wanita di dalamnya. Artinya, jika seorang wanita di
dalam sebuah negara berkeyakinan dan berakidah benar, maka negara itu akan
berjaya dan sebaliknya jika berakidah buruk maka negara itu akan hancur. Sama
hal nya seperti siti sarah dan siti hajar, mereka adalah wanita yang sangat
dimuliakan oleh Allah. Dalam perannya, mereka sangat menaati semua perintah
yang diperintahkan oleh ibrahim. Dalam kisah diceritakan, bahwa sarah ialah
seorang yg memiliki sifat yang lemah lembut dan penyayang, sedangkan hajar
memiliki sifat yang teguh pendirian dan bersikap tegas. Keduanya mampu
menyuarakan kebenaran disaat-saat mudanya. Sarah memiliki kondisi lingkungan
yang sama dengan ibrahim, begitu pun dengan Hajar yang sekian lamanya menjadi
seorang tawanan perang dan akhirnya menjadi budak di suatu kerajaan.
Dalam sejarah pula dikisahkan, bahwa hajar merupakan anak dari seorang
ketua suku di daerahnya, maka tak heran jika beliau memiliki sifat yang
memberontak dan teguh dalam pendiriannya. Singkat cerita setelah hajar dimerdekakan,
sarah dan hajar mulai dekat satu sama lainnnya dengan rasa kekeluargaan yang
sangat erat. Hajar menganggap sarah adalah ibu kandungnya sendiri, sarah mengajarkan
banyak hal mengenai ketauhidan dan keesaan kepada Allah. Seolah-olah memang pendekatan sarah dan hajar ini
telah diberitakan oleh Allah kepada Ibrahim. Sarah mengajarkan banyak hal dan
mengisahkan banyak mengenai ibrahim. Jika dibayangkan, sarah itu seperti sedang
mempersiapkan hajar untuk menjadi istri seorang ibrahim. Karena saat itu sarah
belum dikaruniai seorang anak, maka ia selalu berdoa kepada Allah untuk diberikan
keturunan yang dapat meneruskan perjuangan ibrahim.
Tentunya seorang Hajar yang memiliki sifat yang kekritisannya tinggi,
ia sangat ingin terus berada disamping
sarah. Bahkan ia menemukan makna dari kemerdekaan dan pengorbanan yang sesungguhnya.
Ia merasa bahwa kemerdekaan sesungguhnya ialah, ketika ia dapat merasakan bebas
dari yang namanya kedzaliman, dan ia merdeka dari rasa terbelenggunya akidah
serta merdeka dari pengkabutan petunjuk. Ia pun menemukan pengorbanan yang ditunjukannya
untuk selalu berada di samping sarah dan ibrahim. Karena ia menyadari bahwa
pengorbanan cinta yang ia lakukan dahulu bukan berlandaskan lillah, tetapi
ketika ia menemukan cintanya kepada sarah dan ibrahim, maka cinta kepada-Nya
lah yang ia harus perjuangkan dan dikuatkan.
Maka dari perjalanan itulah, hajar dan sarah mampu berkarya dan
menunjukan rasa loyal nya terhadap aturan yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Maka ketika ibrahim diberikan keturunan berupa seorang bayi kecil ismail, maka
ia selalu berupaya dan memanjatkan doa agar anaknya menjadi anak yang sholeh
dan mampu melanjutkan risalahnya. Tak jauh dari waktu kelahiran ismail kecil ibrahim
mendapatkan perintah dari Allah untuk berhijrah ke jazirah Arab dan melakukan
proses dakwah dan menegakkan aturan Allah. Maka saat itulah, hajar dan ismail
diperintahkan oleh ibrahim untuk
mengikutinya dan menjalankan perintahnya. Dalam perjalanan hijrah, tidak ada
sama sekali interaksi antara hajar dan ibrahim. Setelah 2 pertanyaan yang
dilontarkan hajar kepada ibrahim tidak dijawab, mengenai tujuan hijrah. Maka dengan
keteguhan hati seorang hajar, ia mengatakan kepada ibrahim bahwa apa yang
dilakukannya atas dasar perintah dari Allah.
Hingga ibrahim seorang ayah dari ismail, ia rela dan mengorbankan waktu
untuk tidak bertemu dengan istri dan anaknya, hanya karena menjalankan tugas
yang di berikan oleh Allah. Sampai belasan tahun lamanya ibrahim tidak bertemu dengan hajar
dan ismail, ia sangat merindukan seorang anaknya yang sangat ia cintai.
Tak hanya ibrahim, dalam hati terdalam seorang hajar, ia memiliki
rasa kerinduan yang menggebu-gebu, lantaran ia harus melintasi gurun pasir yang
begitu luas, bahkan karena kerinduannya kepada seorang pemimpin itu terobati dengan kehadiran ismail, ia merasakan seperti
gurunlah yang telah melintasi hatinya. Bahkan dari ketegaran serta ketabahan
seorang hajar lah, ismail mampu tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat iman
dan memiliki akhlak yang mulia. Ismail mampu menyampaikan kebenaran kepada
masyarakat di sekitarnya. Karena itulah didikan seorang ibrahim dan hajar, ismail
mampu mengobati rasa kerinduan kepada ayahnya.
Bahkan, berdirinya mekkah mukaramah pun berawal dari ketiadaan
masyarakat menjadi ada. Yaitu, ketika gurun pasir sangat kering dan tidak
berpenghuni, saat itulah hajar berupaya untuk mencari tanda-tanda kehidupan.
Hajar berlari-lari kecil antara bukit safa dan marwah sebanyak 7 kali. Dan itu
ia lakukan agar dapat memenuhi kebutuhnnya dan kebutuhan ismail. Namun Allah
berkata lain, Dia memberikan kasih sayangnya kepada hambanya yang senantiasa
beriman kepadanya, mau untuk berupaya dan tidak henti-hentinya meminta kepada
Allah. Kasih sayang berupa diberikannya air yang memancar yang keluar dari
dalam pasir gurun yang sangat kering. Zam-zam lah namanya.
Maka ketika itulah, banyak kafilah dagang yang singgah dan menetap
disana. Hingga terbentuklah sebuah kehidupan dan saling tolong menolong. Dikesempatan
inilah, hajar memanfaatkan untuk tetap menyebarkan keyakinannya untuk dipegang dan
diyakini masyarakat. Maka hingga saat ini, banyak orang yang sangat merindukan
kehadiran seorang pemilik zam-zam.
Hingga sampai ibrahim kembali pada tempat yang semua tak berpenghuni
tersebut, ia mulai meluaskan ajaran-ajarannya dan memimpin di dalamnya. Hingga
peristiwa haji dan qurban pun terantum di dalam sejarah yang berawal dari perjalannya. Dan ismail yang
telah menjadi pejuang tangguh, ketika ia ditanyai menanyai perintah untuk disembelih,
maka ia yakin bahwa perintahnya ialah berasal dari Allah. Karena seorang yang
benar-benar cintanya tidak buta dan tidak dikabutkan, maka ia akan sangat
terikat dengan Sang pemilik cinta. Ia
akan berfikir, bahwa kemerdekaan, pengorbanan, serta kerinduan yang ia alami,
semata-mata karena perintah-Nya, dan ia jadikan semua itu karena bentuk
pengabdian hanya kepada-Nya.
Kesimpulan : untuk
mendapat kasih sayang nya Allah, maka yang perlu didasari adalah bentuk
pengabdian, pengorbanan, dan kecintaan kita kepada Allah. Perlu dimaknai dan ditotalkan.
Karena untuk mendapatkan kasih sayangnya Allah itu, kita perlu memantaskan
dengan menekadkan, berupaya, dan meminta kepada-Nya.
Note : ditulis pada tanggal 23 Agustus 2017, waktu buat essay kelas 12 moment idul adha.



0 komentar